Music

Jumat, 26 September 2014

Pertemuan 26-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR

SFORZO

Dialog Imajinatif

Pertemuan 25-9-2014 Blog Filsafat Psikologi UNTAR

FILSAFAT MANUSIA: JIWA DAN BADAN


Plato mengatakan bahwa badan dan jiwa punya sifat yang berbeda. Badan sementara dan jiwa abadi.

Monoisme
Satu aliran yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan 2 unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi, keduanya satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Bertentangan dengan hakikat manusia sesungguhnya.
3 bentuk aliran:
-Materialisme : Materi adalah dasar bagi segala hal yang ada. Manusia dan jiwa bersumber dari materi. kelemahan materialisme adalah tidak bisa melihat bahwa pengalaman bersifat personal.
-Teori identitas : Badan dan jiwa adalah elemen yang sama, hanya memiliki perbedaan arti. Mengakui aktivitas mental manusia.
-Idealisme : peletak dasar ialah Rene Descartes yang mengemukakakn "cogito ergo sum". Hal yang diterangkan melalui pengalaman, nilai dan makna yang punya arti jika dihubungkan dengan jiwa.

Dualisme
Badan dan jiwa adalah 2 elemen yang berbeda dan terpisah. Badan dn jiwa memiliki perbedaan pengertian dan objek.
4 cabang dualisme :
-Interaksionalisme : Hubungan timbal balik antara badan dan jiwa
-Okkasionalisme : Memasukkan dimensi Ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik terjadi karena campur tangan ilahi.
-Paralelisme : Sistem kejaidan ragawi. Alam merupakan sistem kejadian kejiwaan pada jiwa manusia.
-Epifenomenalisme : Hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf.

Badan manusia
Badan adalah elemen dasar dalam bentuk pribadi manusia. Pandangan tradisional mengatakan badan adalah kumpulan berbagai entitas yang membentuk makhluk. Badan menyangkut keakuan, membicarakan tubuh adalah membicarakan diri. ( Gabriel Marcel). Hakikat badan adalah seluruh aktivitas entitas yang terjadi dalam badan, misalnya tertawa, menangis, berjalan,dll.

Jiwa manusia
Pandangan tradisional menyatakan bahwa jiwa adalah makhluk halus, tidak bisa ditangkap pleh indera. Jiwa harus dipahami sebagai kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.
James P. Pratt membagi kemampuan dasar manusia menjadi 4, yaitu:
-Menghasilkan kualitas penginderaan
-Menghasilkan makna yang berasal dari penginderaan khusus
-Memberikan tanggapan terhadap hasil penginderaan.
-Memberi tanggapan pada proses yang terjadi dalam pikiran demi kebaikan
Agustinus: Manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap tindakkannya karena dorongan dari jiwa. Jiwa mendorong manusia untuk melakukan hukum-hukum moral. Jika melakukan praktek moral maka jiwa berfungsi.



Sumber: powerpoint materi Filsafat Manusia-Jiwa dan Badan

Selasa, 23 September 2014

Pertemuan 23-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR

ETIKA DAN MORAL

Etika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat moral (moral philosophy). Secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani=Ethos yang berarti watak.Sedangkan moral berasal dari kata Latin: Mos (tunggal), moris (jamak) artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan.

Pengertian Etika menurut:
-Kamus Besar Bahasa Indonesia: Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (Akhlak); Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
-Bertens: Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat; Kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode etik; Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat moral.

Etika dibedakan Menjadi 2:
-Etika perangai : Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku.
-Etika Moral : Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.

Arti Etika
-Etika sebagai ilmu: Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
-Etika sebagai kode etik: Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
-Etika sebagai sistem nilai: Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.

Objek Material dan Formal Etika
-Objek material : suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.
-Objek formal : cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti/ ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.
-Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).
-Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan penilaian bermoral atau tidak bermoral).

Etika Sebagai Cabang Filsafat
Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral, atau menerjemahkan pelbagai nilai itu ke dalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi kehidupan konkret.

Berdasar Kajian Ilmu
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2. Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

Tujuan belajar etika : Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu

Sistematika Etika
De Vos (1987)

Senin, 22 September 2014

Pertemuan 22-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR

SILOGISME

Silogisme adalah suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis-premis) disimpulkan suatu putusan yg baru. Prinsipnya adalah bila premis benar, maka simpulannya benar.
Dua macam silogisme:
1.Silogisme kategoris
2.Silogisme hipotetis.
Silogisme Kategoris
Silogisme yang premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (pernyataan tanpa syarat).
Contoh: M – P  Perbuatan jahat itu haram.
                S – M Menghina itu adalah perbuatan jahat.
                S – P  Maka, menghina itu haram.
Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.

-Silogisme kategoris tunggal mempunyai dua premis, terdiri atas 3 term S, P, M.
Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
(1) M adalah S dalam premis mayor dan P dalam permis minor. Aturan: premis minor harus sebagai penegasan, sedang premis mayor bersifat umum.
Contoh: M – P Setiap manusia dapat mati (mayor)
                 S – M Aristoteles adalah manusia (minor)
                S – P Jadi, Aristoteles dapat mati (simpulan)
(2) M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan: salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.
Contoh: P – M Lingkaran adalah bentuk bundar (mayor).
S – M Segitiga bukan bentuk bundar (minor)
S – P Segitiga bukan lingkaran (simpulan)
(3) M menjadi S dlm premis mayor dan minor. Aturan: premis minor harus berupa penegasan  dan simpulannya bersifat partikular.
Contoh: M-P Mahasiswa itu orang dengan tugas belajar (Mayor)
                M-S Ada mahasiswa yang orang bodoh (minor)
                S-P Jadi, sebagian orang bodoh itu orang dengan tugas belajar (Simpulan)
(4) M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor. Aturan: premis minor harus berupa penegasan, sedangkan  Simpulan bersifat partikular.
Contoh: P – M Influenza itu penyakit (mayor)
                M- S Semua penyakit mengganggu kesehatan (minor)
                S-P  Jadi, sebagian yang mengganggu kesehatan itu influenza (simpulan)

-Silogisme Kategoris Majemuk adalah bentuk silogisme yang premis-premisnya sangat lengkap, lebih dari tiga premis.
Jenis-jenisnya:
-Epicherema: silogisme yang salah satu/kedua premisnya disertai alasan.
-Enthymema: silogisme yang dalam penalarannya tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yang disingkat.

Minggu, 21 September 2014

JURNAL

Nama: Dessy Pratiwi
NIM: 705140046


ANALISA JURNAL
UJIAN NASIONAL (UN) DAN PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH


Tugas jurnal ini saya analisa dari buku kumpulan jurnal akademik yang saya dapatkan dari perpustakaan. Judul jurnal yang saya pilih adalah “Ujian Nasional (UN) dan peningkatan mutu pembelajaran disekolah”.
                Konstruk yang ada pada jurnal ini adalah peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dengan ujian nasional (UN).
                Beberapa tahun terakhir UN telah dilaksanakan padaseluruh SMP dan SMA setingkatnnya diseluruh Indonesia. Tujuan awal dari UN ini tentunya adalah untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, ini dikarenakan kondisi pendidikan di Indonesia sebelum adanya UN cukup memprihatinkan. Dari perspektif akademik, pelaksanaan UN dapat dianggap sebagai bentuk penilaian suatu kelulusan. Fungsi UN adalah sebagai alat pengendali mutu dan kualitas pendidikan secara nasional.
                Dari latar belakang, penulis ingin menjelaskan bagaimana kondisi pendidikan Indonesia sebelum dilaksanakannya UN dan betapa pentingnya UN untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Para peneliti berharap dengan adanya UN maka mutu pendidikan di Indonesia akan meningkat seperti yang diharapkan.
                Konfirmasi adalah cara penegasan atau penguatan apa yang didapatkan dari kenyataan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif yang dipilih karena jumlah siswa di Indonesia sangat banyak dan merupakan metode yang hasilnya akurat.
                Penentuan subyek diambil dari kualitas sekolah. Maka dipilihlah 100 dsekolah terbaik di setingkatnya (SMP/SMA) dalam skala nasional. Subyek dipilih berdasarkan beberapa kriteria tertentu yaitu nilai rata-rata UN, presentase kelulusan, akreditasi sekolah dll.
                Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, karena penelitian menggunakan banyak sampel yaitu sekolah dan siswa-siswi yang mengikuti UN di Indonesia. Penulis berusana menangkap fenomena yang sama pada jumlah yang banyak (dari khusus) untuk bisa ditarik kesimpulan yang bisa digeneralisasi (ke umum), maka penelitian ini menggunakan metode induktif.
                Hasil penelitian ini akan dikaji lebih dalam untuk mencapai suatu kesimpulan. Untuk memudahkan dalam membuat suatu kesimpulan, dapat menggunakan premis-premis. 

Berikut adalah contoh premis:
Premis 1 : Semua siswa-siswi kelas 3 SMA mengikuti UN
Premis 2 : Dessy adalah siswi kelas 3 SMA
Kesimpulan : Dessy mengikuti UN

Premis 1 : Semua siswa-siswi yang memperoleh nilai diatas 60 lulus UN
Premis 2 : Dessy memperoleh nilai 75
Kesimpulan : Dessy lulus UN

Premis 1 : Subyek mengikuti UN
Premis 2 : Subyek adalah individu yang diwawancara
Kesimpulan : Individu yang diwawancara mengikuti UN

Maka kesimpulan dari premis-premis diatas adalah
-Dessy mengikuti UN karena Dessy adalah siswi kelas 3 SMA
-Dessy lulus UN karena Dessy memperoleh nilai diatas 60
-Subyek mengikuti UN karena Subyek adalah individu yang diwawancara.