Music

Selasa, 11 November 2014

Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja


Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja

Latar Belakang

     Semakin bertambah banyaknya kasus pergaulan bebas dikalangan remaja menjadi alasan utama saya dalam memilih topik ini sebagai karya tulis. Fenomena pergaulan bebas sudah menjadi hal yang wajar dikalangan remaja khususnya remaja ditingkat SMP dan SMA. Banyak contoh pergaulan bebas seperti seks bebas, narkoba, dan lain-lain.

Pengertian Pergaulan Bebas.

     Pengertian Pergaulan Bebas Menurut KBBI. Pengertian pergaulan bebas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbagi menjadi 2 kata yaitu pergaulan dan bebas, pergaulan berarti kehidupan bergaul dan bebas berarti tidak terikat atau terbatas oleh aturan.

     Pengertian Pergaulan Bebas Menurut Para Tokoh. Gunarsa dan Gunarsa (2004, h. 50) mengatakan, “Pergaulan bebas berarti pergaulan yang luas antara pemuda dan pemudi. Tidak terlalu menekankan pengelompokan yang kompak antara dua orang saja, akan tetapi antara banyak muda-mudi.”

Faktor yang Menyebabkan Pergaulan Bebas.

     Beberapa faktor yang menyebabkan remaja melakukan pergaulan bebas adalah: (a) penampilan fisik, remaja tidak percaya diri ketika masa pubertas karena adanya perubahan fisik; (b) status kedewasaan, seperti pemikiran yang masih kekanak-anakan akan mudah terpengaruh serta kurangnya sikap bertanggung jawab; dan (c) kekaburan mengenai masa depan dan keragu-raguan mengenai tempatnya didalam masyarakat. (Gunarsa & Gunarsa, 2004).

Dampak Negatif Pergaulan Bebas.

     Dampak negatif dari pergaulan bebas terbagi menjadi 2, yaitu (a) kenakalan remaja, (b) seks bebas, dan (c) narkotika. (Chomaria, 2008).

     Kenakalan Remaja. Kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang dan melanggar aturan sehingga mengganggu ketertiban dan ketenangan hidup masyarakat. Contoh dari kenakalan remaja adalah perampokan, pembunuhan, pencurian, perkosaan, tawuran, pelacuran, pencurian, sampai membolos sekolah.

     Seks Bebas. Kebanyakan remaja melakukan seks bebas karena didorong oleh keinginannya sendiri untuk merasakan kenikmatan duniawi semata tanpa mempertimbangkan agama dan nilai moral. Dorongan seksual remaja timbul akibat banyaknya media massa cetak maupun elektronik yang banyak mengekspose tentang pornografi sehingga banyak remaja yang terpengaruh untuk mengikuti.

          Keuntungan dan Kerugian. Keuntungan dari seks bebas hanya satu yaitu untuk menyalurkan dorongan seksual, sedangkan kerugiannya lebih banyak yaitu (a) menjadi kecanduan, (b) berdosa, (c) rasa penyesalan yang tidak akan hilang, dan (d) dari pihak wanita akan merasa kotor dihadapan suaminya nanti.

          Akibat Seks Bebas. Akibat dari seks bebas antara lain: (a) hamil, ada 3 alternatif bila terlanjur hamil yaitu melahirkan dan menjadi single parent, melahirkan dan hak asuh diberikan pada keluarga, atau aborsi; (b) penyakit menular seksual (PMS), seperti gonorrhea, herpes dan sifilis; (c) HIV/AIDS, penyakit ini yang paling sering terjadi bila melakukan seks bebas dan paling sulit disembuhkan serta sangat menular;  dan (d) penyimpangan seksual, seperti masturbasi, fethisisme, prostitusi, homo seksual, dll.

     Narkotika. Awalnya remaja yang penasaran dengan narkoba yang ditawarkan akan coba-coba lalu mulai meningkatkan dosis penggunaan akhirnya menjadi kecanduan. Pemasok awalnya memberi dengan gratis tetapi ketika sudah kecanduan, pemasok baru member harga mahal untuk narkoba ini. Pecandu akan mulai mengalami perubahan suasana hati, pola pikir dan perilaku. Beberapa narkotika seperti heroin, putaw dll memberikan efek menyenangkan dan bebas pada awalnya kepada pemakai. Efek jangka pendek dari narkoba ini adalah kerusakan atau gangguan organ tubuh, efek jangka panjangnya dapat menyebabkan kerusakan otak sampai kematian.

Pengertian Remaja.

     Pengertian Remaja Menurut KBBI. Pengertian remaja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mulai dewasa atau sudah sampai umur untuk kawin.

     Pengertian Remaja Menurut Para Tokoh. “Masa remaja adalah masa peralihan dari anak – anak menuju dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik”. (Hurlock, 1999, h. 206).

Perkembangan Psikososial Remaja. Erik Erikson mengemukakan delapan tahap perkembangan psikososial, dalam pandangannya tujuan remaja adalah mencari identitas. Pada masa remaja kita mulai mencari tahu siapa diri kita dan apa keyakinan diri kita, sedangkan remaja yang tanpa identitas jelas dan tanpa tujuan sangat mudah dipengaruhi hal-hal negatif dari teman-temannya. (Semiun, 2010).

Upaya Mencegah Pergaulan Bebas pada Remaja.

     Upaya Mencegah Pergaulan Bebas pada Remaja dari Orang Tua. Beberapa upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah anaknya melakukan pergaulan bebas dimasa remaja, yaitu: (a) orang tua tidak boleh menyerah dalam mendidik anak, harus bertahan dan kuatb dalam mendidik anak dimasa remajanya; (b) orang tua harus konsisten dalam ucapan dan ajarannya, tidak boleh plinplan dan harus member pesan yang jelas pada anak; (c) menjalin kontak yang positif dengan anak, seperti komunikasi dan melakukan kegiatan bersama; (d) memberi pengarahan yang lunak tapi pasti, orang tua harus tegas tapi tidak menggunakan kekerasan; dan (e) kenali diri anda sendiri, tidak perlu mengikuti metode pengajaran orang lain bila menurut anda tidak sesuai dengan pendapat anda karena setiap anak dapat diajarkan secara berbeda. (Gardner, 1996).

Kesimpulan

     Simpulan dari karya tulis ini adalah banyak aspek yang menimbulkan remaja melakukan perilaku pergaulan bebas,tidak dipungkiri bahwa memang setiap tahunnya kasus remaja yang terlibat pergaulan bebas semakin meningkat. Ini juga dissebabkan oleh kurangnya moral bangsa pada zaman modern sekarang ini. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat untuk remaja dimasa yang akan datang dan semoga kehidupan moral remaja di Indonesia menjadi semakin lebih baik.    


Daftar Pustaka
 

Chomaria, N. (2008). Pergaulan bebas. Dalam A. Najmuddin (Ed.), Aku sudah gede: Ngobrolin pubertas buat remaja islam (h. 95-125). Solo: Samudra.

Gardner, J. E. (1996). Memahami gejolak masa remaja (M. S. Hadisubrata, Penerj.). Jakarta: Mitra Utama. (Karya asli diterbitkan tahun 1983)

Gunarsa, Y. S. D., & Gunarsa, S. D. (2004). Psikologi untuk muda-mudi.  Jakarta:  BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E. B. (1999). Psikologi perkembangan (I. Widayanti & Sudjarwo, Penerj.). Jakarta: Erlangga.

Semiun, Y. (2010). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud (h. 21). Yogyakarta: Kanisius.

Tim Pustaka Phoenix. (2009). Kamus besar bahasa indonesia edisi baru. Jakarta: Media Pustaka Phoenix.

Rabu, 05 November 2014

Latihan 17 Dessy Pratiwi 705140046


Perilaku Menyontek Anak Sekolah

 

Pengertian Menyontek

     Pengertian menyontek menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Menyontek berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, menocoh, menggocoh yang artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak.

Pengertian menyontek menurut para tokoh.

     Menurut Webster’s New Universal Unabridged Dictionary (Schmelkin, 2008), menyontek diartikan sebagai perilaku yang menipu yaitu dengan dengan kecurangan.

     Menurut Eric, dkk (Hartanto, 2012), menyontek berarti upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.

Jenis-Jenis Menyontek

     Menurut Hetherington dan Feldman (Anderman & Murdock, 2007) Terbagi 4, yaitu:

     Individualistic-opportunistic dapat diartikan sebagai perilaku dimana siswa mengganti suatu jawaban ketika ujian atau tes sedang berlangsung dengan menggunakan catatan ketika guru atau guru keluar dari kelas. 

     Independent- planned dapat diidentifikasi sebagai menggunakan catatan ketika tes atau ujian berlangsung, atau membawa jawaban yang telah lengkap atau telah dipersiapkan dengan menulisnya terlebih dahulu sebelum ujian berlangsung. 

     Social-active yaitu perilaku menyontek dimana siswa mengkopi, melihat atau meminta jawaban dari orang lain. 

      Social-passive adalah mengizinkan seseorang melihat atau mengkopi jawabannya.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perilaku Menyontek

Faktor Internal yang Menyebabkan Perilaku Menyontek. Menurut Shandy (2010) Kebiasaan menyontek dapat muncul dari diri sendiri disebabkan karena kurangnya percaya diri dalam mengerjakan tugas. Selain itu menyontek juga disebabkan faktor “malas” yang sudah ada pada siswa. Malas belajar dan tidak membuat tugas akan membentuk karakter siswa yang menginginkan sesuatu diperoleh dengan cara instan, sehingga menyontek menjadi pilihan. (Koto, 2014). menyontek/cheating  bisaterjadi apabila seseorang berada dalam kondisi underpressure, yaitu apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar daripada potensi yang dimiliki. Apabila tidak dikendalikan dengan  baik, akan menimbulkan hasrat untuk melakukan cheating/menyontek. (Koto, 2014)

Faktor Eksternal yang Menyebabkan Perilaku Menyontek.

     Dari Pendidik, alasan pertama penyebab siswa menyontek adalah metode belajar yang monoton dan kurang variasi membuat siswa menjadi bosan dan jenuh untuk belajar. Alasan yang kedua karena didorong kurangnya ketegasan dari guru untuk menindaklanjuti siswa yang ketahuan menyontek, kurang tegasnya dari pendidik membuat budaya menyontek semakin menjadi-jadi dikalangan siswa.

     Dari Orang Tua atau Keluarga, Seringnya orang tua yang menuntut anaknya untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Jika tidak didukung degan cara yang relevan, tuntutan orang tua tersebut bisa berdampak negatif pada anak. Salah satunya adalah orang tua yang mementingkan hasil daripada proses anak dalam belajar. Hal ini bisa menekan anak untuk menyontek dalam pelajaran karena takut, dan menyontek dianggap sebagai solusi  pintas untuk mendapatkan nilai yang tinggi.

     Dari Teman, keinginan menyontek dapat timbul ketika melihat temannya menyontek, banyaknya teman yang menyontek dapat membuat anak-anak berpikir “Untuk apa bersipkap jujur kalau semuanya menyontek?”. Hasrat menyontek dapat juga muncul karena adanya peluang yang diberikan oleh teman, seperti berupa pembagian jawaban dari teman yang pintar. Mereka juga berpikir bahwa saling menyontek dapat menumbuhkan solidaritas, sedangkan bagi siswa yang tidak menyontek seringkali mendapatkan tekanan dari teman-teman nya untuk menyontek juga atau memberikan contekan dengan alasan demi solidaritas.

Dampak Negatif Menyontek

Dampak Negatif Bagi Siswa yang Tidak Menyontek

     Merugikan Siswa yang Jujur Secara tidak langsung, siswa yang jujur juga ikut dirugikan akibat kebiasaan menyontek. Hal ini dapat dilihat dalam seleksi penerimaan  beasiswa yang diadakan disekolah atau di kampus. Bagi mereka yang menyontek memperoleh nilai tinggi daripada siswa yang jujur saat ujian. Sementara salah satu syarat untuk memperoleh beasiswa dilihat dari nilai siswa tersebut.

       Nilai /IPK Bukan jadi Kebanggaan. Dampak selanjutnya dari menyontek adalah kurangnya rasa bangga terhadap Nilai/IPK yang diperoleh oleh peserta didik dan mahasiswa. IPK yang tinggi diperoleh dengan gampangnya tanpa dibarengi dengan usaha yang sepantasnya.

Dampak Negatif Bagi Siswa yang Menyontek

      Tidak mandiri. Peserta didik yang sering menyontek akan mengakibatkan tingginya rasa ketergantungan terhadap orang lain. Hal ini dikarenakan kebiasaan yang selalumengandalkan orang lain dalam melaksanakan tugas.

      Mudah menyerah. Hal ini akan dirasakan pada saat menghadapi dunia kerja. Karena terbiasa mengandalkan orang lain, maka pada saat bekerja mereka yang sering menyontek akan mudah menyerah dalam melaksanakan pekerjaan.

     Berdosa. Kebiasaan menyontek jika dilihat dari segi agama maka termasuk dalam  perbuatan tercela. Hal ini tentu akan menambah daftar dosa yang kita kerjakan. Karena tuhan akan mebalas kebaikan seseorang walaupun hanya sebijizarah, begitupun sebaliknya.

      Berpotensi sebagai koruptor. Dalam sebuah acara seminar di UniversitsTadulako, Ketua KPK Abraham Samad yang menyatakan “Menyontek saat ujian, berarti tidak  jujur, dan ini adalah cikal bakal dari kejahatan korupsi. Apalagi skripsi dibuatkan oleh orang lain”. Dalam hal ini Abraham Samad tidak hanya menekankan pada mahasiswa saja, ”Begitu pula dosen yang mendagangkan ilmunya dengan membuatkan skripsi mahasiswa. Keduanya merupakan intellectual corruption atau korupsi intelektual,” tegas Dr. Abraham Samad.

Dampak Negatif menyontek Bagi Sekolah

     Rendahnya Mutu Hasil Pendidikan. Hasil pendidikan yang dimaksud adalah para siswa dan sarjana yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Mereka lulusan dengan IPK yang tinggi tanpa ilmu yang mumpuni karena sewaktu kuliah mereka hanya mengandalkan otak orang lain dalam melaksanakan tugas. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan lulusan sarjana dalam menyikapi dunia kerja yang mana kreatifitas dituntut harus tinggi.  

     Rendahnya Daya Saing Sekolah dengan Sekolah Lain. Dengan lulusan yang siswanya sering menyontek, maka tingkat kompetensi sekolah tersebut akan rendah. Hal ini akan berakibat rendahnya daya saing lulusan sekolah dengan sekolah lain.

Upaya Mencegah Siswa Menyontek

Upaya Mencegah Siswa Menyontek dari Sekolah

     Meningkatkan ketegasan guru. Guru sebagai faktor penentu dalam mengatasi kebiasaan menyontek pada siswa, jika ada siswa yang ketahuan menyontek diharapkan seorang guru akan memberi sanksi yang tegas, sehingga kebiasaan menyontek dapat diberantas hingga tuntas. 

     Menambah wawasan pengetahuan siswa. Penambahasan wawasan siswa dapat dilakukan dengan penambahan  bimbingan belajar (bimbel), diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan siswa dapat mengurangi kebiasaan menyontek pada siswa.

     Memberikan reward/penghargaan. Penghargaan diberikan kepada siswa yang konsisten untuk jujur. Hal ini dapat memicu semangat siswa untuk berlomba-lomba untuk jujur, selain untuk siswa penghargaan juga diberikan kepada pendidik yang konsisten dalam menerapkan peraturan yang tidak membolehkan siswa untuk menyontek. Sehingga dengan adanya penghargaan ini diharapkan dapat mengurangi kebiasaan menyontek pada siswa.

     Memberikan sanksi yang setimpal dengan kecurangan yang dilakukan siswa. Dengan memberikan sanksi yang setimpal diharapkan dapat menekan kebiasaan menyontek pada siswa. Namun sanksi yang diberikan diusahakan  berdampak positif yang dapat mengarahkan siswa untuk sadar akan kesalahannya.

Upaya Mencegah Siswa Menyontek dari Siswa atau Diri Sendiri

     Belajar dengan tekun. Bila kita belajar dengan tekun, kita pasti akan menjadi lebih percaya diri dan merasa mampu mengerjakan ujian dengan baik. Bila kita merasa membutuhkan bantuan dalam belajar, kita dapat membuat kelompok belajar dengan teman atau mengikuti bimbel (bimbingan belajar) untuk mengatasi masalah belajar kita.

     Mendekatkan diri dengan Tuhan. Dengan mendekatkan diri dengan Tuhan, kita akan merasa bersalah ketika memutuskan untuk menyontek, sehingga dapat mencegah kita menyontek dan memilih untuk melaksanakan ujian secara jujur meskipun mendapatkan hasil yang buruk.

     Tidak mudah terpengaruh teman. Jangan takut untuk menolak ikut menyontek atau memberikan contekan kepada teman karena alasan solidaritas. Karena menyontek hanya akan membuat siswa malas belajar dan tidak ada hubungannya dengan solidaritas, dapat dinamakan solidaritas teman bila membantu belajar bersama bukannya menyontek bersama. Lebih baik tidak mengikuti teman menyontek dan lebih memilih untuk jujur.

Upaya Mencegah Siswa Menyontek dari Orang Tua

     Mendekatkan diri dengan anak. Dengan mendekatkan diri dengan anak, anak akan merasa lebih dekat dan jujur dalam mengungkapkan perasaannya pada orang tuanya. Anak juga akan lebih memikirkan lagi perasaan orang tuanya ketika ia akan menyontek, sehingga membuatnya ragu untuk menyontek karena takut mempermalukan orang tuanya.

     Tidak mengharapkan nilai yang terlalu tinggi. Orang tua tidak seharusnya mengharapkan nilai yang sulit dicapai oleh anaknya, dengan membandingkannya dengan anak-anak lain yang mungkin lebih pintar. Orang tua seharusnya lebih dahulu mengetahui batas kemampuan anaknya, sehingga tidak memaksanya harus mendapat nilai yang sama dengan anak yang lebih pintar, karena harapan yang terlalu tinggi dari orang tua hanya akan membuat anak berusaha mendapatkan nilai tinggi dengan cara apapun termasuk menyontek.

      Mengajarkan anak belajar secara positif dan jujur. Belajar secara positif dengan menanamkan kejujuran sedini mungkin sehingga dapat mencegah perbuatan menyontek. belajar secara negatif dengan kaku dan memaksa hanya akan membuat anak stres dan tertekan.

     Hukuman dan Penghargaan. Ajarkan anak bersikap jujur dengan cara memberikan penghargaan atau hadiah bila anak mendapat nilai bagus sehingga dapat memicu semangat belajarnya, sedangkan bila ia ketahuan menyontek berikan hukuman yang setimpal sehingga ia menydari kesalahannya.

 

Daftar Pustaka

Koto, L. (2014, Mei). Analisis sebab akibat kebiasaan menyontek pada pelajar dan solusi untuk mengatasinya. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.

Riadi, M. (2013, Maret 14). Teori menyontek. Kajian Pustaka. Diunduh dari  http://www.kajianpustaka.com/2013/03/teori-menyontek.html

Tim Pustaka Pheonix. (2009). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru.  Jakarta : Media Pustaka Pheonix.

Sabtu, 04 Oktober 2014

27 September 2014

JAWABAN SESI TANYA JAWAB 27-9-2014

1. Apa maksud intelegensi manusia terletak dari obyektivitas? - Cardinsa (F4)
Karena manusia diciptakan dan dengan dilengkapi dengan kecerdasan yang memiliki kemampuan luar biasa, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain dan kecerdasan sebagai suatu kemampuan inipulalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dimuka bumi ini, dengan kecerdasan ini pula masyarakat dapat menjalani kehidupan yang dinamis.

2. Mengapa intelegensi manusia dewasa terletak pada obyektivitas? - (Alethia + Triple B)
Intelegensi manusia terletak pada objektivitasnya karena orang dapat melihat hak-hak yang dalam pada diri manusia itu sendiri, untuk mencapai hakikat dan realitas.

3. Bagaimana perbandingan intelegensi dewasa dan anak-anak? - (Legato)
Perbedaan intelegensi anak anak dan dewasa terletak pada kematangan. Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ(fisik maupun non fisik) dapat dikatakan telah matang jika telah mencapai kesangupan menjalangkan fungsinya masing-masing. Anak tidak dapat memecahkan soal-soal tertentu karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya. Organ-organ tubuhnya dan fungsi-fungsi jiwanya masih belum matang untuk mengenai soalitu dan kematangan erat hubungannya dengan umur. Yang kedua adalah pembentukan, pembentukan ialah segala keadaan diluar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja seperti yang dilakukan disekolah-sekolah (pendidikan saat ini berbeda dengan zaman dulu) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).

4. Tingkat-tingkat intelegensi menurut kalian apa saja? Urutkan dari yang tertinggi sampai terendah! - Regina (Athmosphere)
- Menurut prof howard gardener dalam multiple intelligence ada 8 jenis.
- Kecerdasan linguistik yaitu kemampuan untuk menggunakan kata2 secara efektif
- Kecerdasan logik matematik yaitu kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah.ia mampu memikirkan dan menyusun solusi dengan urutan yang logis
- Kecerdasan visual dan spasial yaitu kecerdasan untuk mengamati dunia visual dan spasial secara akurat
- Kecerdasan musik adalah kemampuan menikmati mengamati membedakan mengarang membentuk dan mengekspresikan bentuk2 musik
- Kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan untuk mengerti maksud dan motivasi orang lain
- Kecerdasan intrapersonal kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri
- Kecerdasan kinetik kemampuan dalam menggunakan tubuh secara terampil untuk mengungkapan ide
- Kecerdasan naturalis kemampuan untuk mengenali membedakan mengungkapkan dan membuat kategori terhadap ap yang dijumpai

5. Penjelasan prinsip identitas alasan kausalitas. - Cindy (Paris)
Kausalitas ini merupakan jenis khusus persebaban yang ditemukan dalam alam eskternal, sub-spiritual.Kausalitas jenis ini berbeda dari jenis kegiatan psike atau sebab-sebab spiritual.Hubungan antara peristiwa - peristiwa alam tidak semata - mata merupakan hubungan fungsi matematis.Sebab, hubungan ini memenuhi pendapat tentang suatu sebab sejati.

6. Pengetahuan secara induktif dan deduktif. - (Spirit to share)
Kalo menurut buku:
Induktif: pengetahuan itu induktif bila menarik yg universal dari yg individual
Deduktif : pengetahuan itu deduktif bila menarik yg individual dari yg universal
Kalo menurut diinternet adanya berpikir deduktif-induktif, intinya sma aja:
Induktif: khusus ke umum
Deduktif: umum ke khusus

7. Pengaruh roh pada pengetahuan. - Imma (Fiseldus)
Menurut kami adalah sudah tidak terlalu berpengaruh karena jaman sekarang sudah lebih mengedepankan Logika bukan sistem kepercayaan roh nenek moyang. Orang zaman sekarang lebih berpikir logis dan memiliki rasa ingin tau yang besar sehingga mereka berupaya mencari jawaban dari berbagai pertanyaan dengan ilmu-ilmu yang ada sekarang. Tidak seperti jaman dahulu yang lebih mempercayai tentang roh-roh nenek moyang dsb.

8. Intelegensi seseorang bisa tambah atau tidak? - (Future Psychology)
Intelegensi seseorang dapat semakin bertambah atau meningkat dengan terus belajar dan menambah wawasan

9. Artinya apresepsi dan aprehensi - (Lonze Philosophy)
persepsi adalah semacam pengetahuan sepontan pra-sadar dan pra-pribadi tentang dunia dimana kita berada. Aprehensi adalah kegiatan yang terjadi di dalam dan di sekeliling kita.

10. Perbedaan intelegensi dengan indera batin lainnya disebut sebagai estinuisi dan logitatif
perbedaan intelligence dan inderawi batin
intelligence itu kegiatan yang menyesuaikan diri dengan situasi-situasi, dengan menggunakan kombinasi fungsi seperti persepsi, atensi, konseptual, abstraksi, imajinasi dan lain lain. Sedangkan inderawi batin itu adalah ingatan dan imajinasi(keduanya merupakan intelegensi) namun pancaindera hanya menggambarkan segi material dan konkret serta individualisasikan, sedangkan itu menyatakan, menyimpan, membangkitkan, dan mempertimbangkan (konsep atau ide)

11. Apakah intelegensi dapat menurun atau menghilang karena penyakit atau karena kecelakaan pada otak? Jelaskan! - (Anggi Maria)
Menurut saya faktor Intelegensi tidak dapat hilang hanya karna kecelakaan semata. Banyak faktor yang mempengaruhi intelegensi tersebut yaitu:
- Faktor Bawaan
Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak pintar. Dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama.
- Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
- Faktor Pembentukan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya.
- Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik mauapun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
- Faktor Kebebasan