Music
Jumat, 26 September 2014
Pertemuan 25-9-2014 Blog Filsafat Psikologi UNTAR
FILSAFAT MANUSIA: JIWA DAN BADAN
Plato mengatakan bahwa badan dan jiwa punya sifat yang
berbeda. Badan sementara dan jiwa abadi.
Monoisme
Satu aliran yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa
merupakan 2 unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi, keduanya
satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Bertentangan dengan hakikat
manusia sesungguhnya.
3 bentuk aliran:
-Materialisme : Materi adalah dasar bagi segala hal yang
ada. Manusia dan jiwa bersumber dari materi. kelemahan materialisme adalah
tidak bisa melihat bahwa pengalaman bersifat personal.
-Teori identitas : Badan dan jiwa adalah elemen yang sama,
hanya memiliki perbedaan arti. Mengakui aktivitas mental manusia.
-Idealisme : peletak dasar ialah Rene Descartes yang
mengemukakakn "cogito ergo sum". Hal yang diterangkan melalui
pengalaman, nilai dan makna yang punya arti jika dihubungkan dengan jiwa.
Dualisme
Badan dan jiwa adalah 2 elemen yang berbeda dan terpisah.
Badan dn jiwa memiliki perbedaan pengertian dan objek.
4 cabang dualisme :
-Interaksionalisme : Hubungan timbal balik antara badan dan
jiwa
-Okkasionalisme : Memasukkan dimensi Ilahi dalam membicarakan
hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik terjadi karena
campur tangan ilahi.
-Paralelisme : Sistem kejaidan ragawi. Alam merupakan sistem
kejadian kejiwaan pada jiwa manusia.
-Epifenomenalisme : Hubungan jiwa dan badan dari fungsi
syaraf.
Badan manusia
Badan adalah elemen dasar dalam bentuk pribadi manusia.
Pandangan tradisional mengatakan badan adalah kumpulan berbagai entitas yang
membentuk makhluk. Badan menyangkut keakuan, membicarakan tubuh adalah
membicarakan diri. ( Gabriel Marcel). Hakikat badan adalah seluruh aktivitas
entitas yang terjadi dalam badan, misalnya tertawa, menangis, berjalan,dll.
Jiwa manusia
Pandangan tradisional menyatakan bahwa jiwa adalah makhluk
halus, tidak bisa ditangkap pleh indera. Jiwa harus dipahami sebagai
kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.
James P. Pratt membagi kemampuan dasar manusia menjadi 4,
yaitu:
-Menghasilkan kualitas penginderaan
-Menghasilkan makna yang berasal dari penginderaan khusus
-Memberikan tanggapan terhadap hasil penginderaan.
-Memberi tanggapan pada proses yang terjadi dalam pikiran
demi kebaikan
Agustinus: Manusia hanya bisa melakukan penilaian terhadap
tindakkannya karena dorongan dari jiwa. Jiwa mendorong manusia untuk melakukan
hukum-hukum moral. Jika melakukan praktek moral maka jiwa berfungsi.
Sumber: powerpoint materi Filsafat Manusia-Jiwa dan Badan
Selasa, 23 September 2014
Pertemuan 23-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR
ETIKA DAN MORAL
Etika sebagai cabang filsafat juga disebut filsafat moral
(moral philosophy). Secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani=Ethos
yang berarti watak.Sedangkan moral berasal dari kata Latin: Mos (tunggal),
moris (jamak) artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia
diartikan sebagai kesusilaan.
Pengertian Etika menurut:
-Kamus Besar Bahasa Indonesia: Ilmu tentang apa yang baik
dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (Akhlak); Kumpulan asas
atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; Nilai mengenai benar dan salah yang
dianut suatu golongan atau masyarakat
-Bertens: Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Disebut juga sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup
bermasyarakat; Kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud disini adalah kode
etik; Ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Artinya sama dengan filsafat
moral.
Etika dibedakan Menjadi 2:
-Etika perangai : Adat istiadat atau kebiasaan yang
menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah
tertentu, pada waktu tertentu pula. berlaku karena disepakati masyarakat
berdasarkan hasil penilaian perilaku.
-Etika Moral : Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik
dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu
perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat
manusia yang disebut moral.
Arti Etika
-Etika sebagai ilmu: Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang
buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
-Etika sebagai kode etik: Kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak.
-Etika sebagai sistem nilai: Nilai mengenai benar-salah yang
dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
Objek Material dan Formal Etika
-Objek material : suatu hal yang dijadikan sasaran
pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. Objek
material bisa bersifat konkret atau abstrak.
-Objek formal : cara memandang atau meninjau yang dilakukan
seorang peneliti/ ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang
digunakannya.
-Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan
manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas).
-Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan, bermoral
tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan yang dilakukan secara
tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan penilaian bermoral atau
tidak bermoral).
Etika Sebagai Cabang Filsafat
Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan
metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral, atau menerjemahkan
pelbagai nilai itu ke dalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi
kehidupan konkret.
Berdasar Kajian Ilmu
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis
norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2. Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan
metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan,
tanggung jawab, norma-norma, dsb.
Tujuan belajar etika : Untuk menyamakan persepsi tentang
penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang
dan waktu tertentu
Sistematika Etika
De Vos (1987)
Senin, 22 September 2014
Pertemuan 22-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR
SILOGISME
Silogisme adalah suatu simpulan dimana dari dua putusan
(premis-premis) disimpulkan suatu putusan yg baru. Prinsipnya adalah bila
premis benar, maka simpulannya benar.
Dua macam silogisme:
1.Silogisme kategoris
2.Silogisme hipotetis.
Silogisme Kategoris
Silogisme yang premis dan simpulannya adalah putusan
kategoris (pernyataan tanpa syarat).
Contoh: M – P
Perbuatan jahat itu haram.
S – M
Menghina itu adalah perbuatan jahat.
S –
P Maka, menghina itu haram.
Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.
-Silogisme kategoris tunggal mempunyai dua premis, terdiri
atas 3 term S, P, M.
Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
(1) M adalah S dalam premis mayor dan P dalam permis minor.
Aturan: premis minor harus sebagai penegasan, sedang premis mayor bersifat
umum.
Contoh: M – P Setiap manusia dapat mati (mayor)
S – M Aristoteles adalah manusia (minor)
S – P
Jadi, Aristoteles dapat mati (simpulan)
(2) M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan: salah
satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.
Contoh: P – M Lingkaran adalah bentuk bundar (mayor).
S – M Segitiga bukan bentuk bundar (minor)
S – P Segitiga bukan lingkaran (simpulan)
(3) M menjadi S dlm premis mayor dan minor. Aturan: premis
minor harus berupa penegasan dan
simpulannya bersifat partikular.
Contoh: M-P Mahasiswa itu orang dengan tugas belajar (Mayor)
M-S Ada
mahasiswa yang orang bodoh (minor)
S-P
Jadi, sebagian orang bodoh itu orang dengan tugas belajar (Simpulan)
(4) M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor.
Aturan: premis minor harus berupa penegasan, sedangkan Simpulan bersifat partikular.
Contoh: P – M Influenza itu penyakit (mayor)
M- S
Semua penyakit mengganggu kesehatan (minor)
S-P Jadi, sebagian yang mengganggu kesehatan itu
influenza (simpulan)
-Silogisme Kategoris Majemuk adalah bentuk silogisme yang
premis-premisnya sangat lengkap, lebih dari tiga premis.
Jenis-jenisnya:
-Epicherema: silogisme yang salah satu/kedua premisnya
disertai alasan.
-Enthymema: silogisme yang dalam penalarannya tidak
mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu premis/simpulannya
dilampaui, disebut juga silogisme yang disingkat.
Minggu, 21 September 2014
JURNAL
Nama: Dessy Pratiwi
NIM: 705140046
ANALISA JURNAL
UJIAN NASIONAL (UN) DAN
PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
Tugas jurnal ini saya analisa
dari buku kumpulan jurnal akademik yang saya dapatkan dari perpustakaan. Judul jurnal
yang saya pilih adalah “Ujian Nasional (UN) dan peningkatan mutu pembelajaran
disekolah”.
Konstruk
yang ada pada jurnal ini adalah peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dengan
ujian nasional (UN).
Beberapa
tahun terakhir UN telah dilaksanakan padaseluruh SMP dan SMA setingkatnnya diseluruh
Indonesia. Tujuan awal dari UN ini tentunya adalah untuk peningkatan mutu
pendidikan di Indonesia, ini dikarenakan kondisi pendidikan di Indonesia
sebelum adanya UN cukup memprihatinkan. Dari perspektif akademik, pelaksanaan
UN dapat dianggap sebagai bentuk penilaian suatu kelulusan. Fungsi UN adalah
sebagai alat pengendali mutu dan kualitas pendidikan secara nasional.
Dari
latar belakang, penulis ingin menjelaskan bagaimana kondisi pendidikan
Indonesia sebelum dilaksanakannya UN dan betapa pentingnya UN untuk
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Para peneliti berharap dengan adanya
UN maka mutu pendidikan di Indonesia akan meningkat seperti yang diharapkan.
Konfirmasi
adalah cara penegasan atau penguatan apa yang didapatkan dari kenyataan. Metode
yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif yang dipilih karena
jumlah siswa di Indonesia sangat banyak dan merupakan metode yang hasilnya
akurat.
Penentuan
subyek diambil dari kualitas sekolah. Maka dipilihlah 100 dsekolah terbaik di
setingkatnya (SMP/SMA) dalam skala nasional. Subyek dipilih berdasarkan
beberapa kriteria tertentu yaitu nilai rata-rata UN, presentase kelulusan,
akreditasi sekolah dll.
Penelitian
ini menggunakan metode kuantitatif, karena penelitian menggunakan banyak sampel
yaitu sekolah dan siswa-siswi yang mengikuti UN di Indonesia. Penulis berusana
menangkap fenomena yang sama pada jumlah yang banyak (dari khusus) untuk bisa
ditarik kesimpulan yang bisa digeneralisasi (ke umum), maka penelitian ini
menggunakan metode induktif.
Hasil penelitian
ini akan dikaji lebih dalam untuk mencapai suatu kesimpulan. Untuk memudahkan
dalam membuat suatu kesimpulan, dapat menggunakan premis-premis.
Berikut adalah
contoh premis:
Premis 1 : Semua siswa-siswi kelas 3 SMA mengikuti UN
Premis 2 : Dessy adalah siswi kelas 3 SMA
Kesimpulan : Dessy mengikuti UN
Premis 1 : Semua siswa-siswi yang memperoleh nilai diatas 60
lulus UN
Premis 2 : Dessy memperoleh nilai 75
Kesimpulan : Dessy lulus UN
Premis 1 : Subyek mengikuti UN
Premis 2 : Subyek adalah individu yang diwawancara
Kesimpulan : Individu yang diwawancara mengikuti UN
Maka kesimpulan dari premis-premis diatas adalah
-Dessy mengikuti UN karena Dessy adalah siswi kelas 3 SMA
-Dessy lulus UN karena Dessy memperoleh nilai diatas 60
-Subyek mengikuti UN karena Subyek adalah individu
yang diwawancara.PENGENALAN DIRI
Selamat sore
nama saya Dessy Pratiwi, 705140046, sekarang saya berkuliah di Universitas
Tarumanagara jurusan Psikologi. Usia saya 18 tahun. Dulu saya bersekolah di
TK-SD-SMP Candra Jaya dan SMA-IPA Damai.
Saya suka warna ungu dan saya memelihara kucing bernama mao-mao. Saya anak ke 3
dari 3 bersaudara. Kakak pertama saya laki-laki saya juga kuliah di UNTAR
jurusan sistem informatika dan kakak kedua saya perempuan juga kuliah di UNTAR
jurusan desain interior. Saya suka
sekali membaca novel fiksi seperti twilight, harry potter dll. Saya tinggal
di daerah Jembatan Lima.
Sebelumnya saya
seharusnya memperkenalkan diri di awal post pertama ketika saya mengerjakan
blog ini tetapi blog ini telah saya buat dari tahun 2012 sebagai tugas
pelajaran TIK di SMA saya. Jadi 3 post pertama saya merupakan tugas SMA saya. Saya
sebenarnya termasuk gaptek dalam urusan komputer , itu sebabnya saya kurang
mengerti dalam blok. Maka hasil blok saya kurang bagus jadi mohon dimaklumi dan
juga semoga post materi saya dapat bermanfaat, dan jangan lupa di komen yah.
TERIMA KASIHDebat Pilkada dan Pergaulan Bebas 18-9-2014
Selamat siang
sebelumnya, sekarang saya akan membahas tentang debat kelas yang berlangsung
pada hari Kamis 18-9-2014 yang lalu. Maaf bila saya baru membahas debatnya
sekarang, itu dikarenakan saya mengutamakan pembahasan materi pembelajaran
terlebih dahulu.
Debat pada
hari Kamis dibagi menjadi 2 topik. Topik yang pertama mengenai Pemilu Pilkada sedangkan topik kedua
mengenai Pergaulan Bebas. Pada debat ini
dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pro dan kontra dan 2 perwakilan dari
masing-masing kelompok akan maju untuk debat. Pada debat ini kami diharuskan
menggunakan 3 metode yaitu :Fenomenalisme, Rasionalisme dan Pragmatis.
Pada debat
ini Romo Carolus, dosen sekaligus bertindak sebagai moderator yang memberikan topik-topik
pembahasan yang menarik. Pertama saya akan membahas tentang Pemilu Pilkada baru
yang kedua Pergaulan Bebas.
Pemilu Pilkada
Pada debat
pertama ini saya termasuk dalam kelompok kontra atau pro pemilihan langsung
dari masyarakat.
Nilai
Fenomenalisme: Pemilu Pilkada tidak seharusnya dipilih oleh anggota dewan
pemerintahan karena kemungkinan kecurangan seperti Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme akan lebih besar. Seperti contoh bisa saja anggota dewan akan
menunjuk seseorang yang memimpin yang masih merupakan anggota keluarganya atau
anggota dari partainya.
Nilai
Rasionalisme: saya setuju dengan pemilu dipilih oleh rakyat karena sesuai
dengan ideologi Indonesia yaitu pancasila dimana kami memiliki hak untuk
memilih secara demokratis, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan memilih
sendiri masyarakat pun ikut mengambil bagian dalam menentukan masa depan
Indonesia. Masyarakat juga dapat lebih mengenal calon pemimpin mereka dari
pemilu langsung dari pada dipilihkan oleh dewan pemerintahan tapi masyarakat
tidak mengenal calon pemimpin mereka.
Sabtu, 20 September 2014
Pertemuan 19-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR
CRITICAL THINKING
Yang dimaksud dengan berpikir kritis adalah merasionalisasi
kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berpikir
sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang
sesuatu.
Karateristik Berpikir Kritis
1.Rasional, Reasonable,Reflektive
Berdasarkan alasan-alasan dan bukti-bukti, bukan atas dasar
keinginan pribadi. Pemikir kritis tidak “melompat pada kesimpulan”, butuh waktu
untuk koleksi data, timbang fakta, dan pikirkan permasalahan.
2.Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
Jumat, 19 September 2014
Pertemuan 18-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR
EPISTEMOLOGI
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang
berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu, jadi epistemologi adalah
cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis
pengetahuan. Epistemologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat
dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta
pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh
setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca
indera dengan berbagai metode, diantaranya: metode induktif, metode deduktif,
metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
3 Metode Untuk Memperoleh Pengetahuan:
1. - Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang
mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke,
bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan
akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku
catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh
sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan
ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama
dan sederhana tersebut.
2. - Rasionalisme
Rabu, 17 September 2014
Pertemuan 16-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR
METAFISIKA
Metafisika Umum/Ontologi
Metafisika tidak sekedar tentang ilmu ghaib atau ketuhanan, tetapi juga tentang semua yang ada seperti manusia, hewan, tumbuhan dan benda alam lainnya.
•Etimologis: meta
ta physika
= sesudah fisika. Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yg
ditempatkan sesudah fisika (8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat
pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika).
•Beragam
arti metafisika:
=upaya mengkarakterisasi realitas sbg
keseluruhan.
=usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di
balik realitas.
= (umum)
pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala
sesuatu yang ada.
•Pembagian
metafisika:
Metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yg meliputi: kosmologi,
teologi metafisik, fils. Antropologi.
Metafisika Umum/Ontologi
Definisi Metafisika/Ontology Menurut Tokoh
- Aristoteles: Metafisika adalah cabang filsafat yang mengkaji yang-ada sebagai yang-ada
- Anton Bakker: Metafisika adalah cabang yang menyelidiki dan menggelar gambaran umum tentang struktur realitas yang berlaku mutlak dan umum.
- Frederick Sontag: Metafisika adalah filsafat pokok yang menelaah 'prinsip pertama' (the first principle)
- Van Peursen: Metafisika adalah bagian filsafat yang memusatkan perhatiannya kepada pertanyaan mengenai akar terdalam yang mendasari segala yang-ada
- Michael J. Loux: Metafisika adalah ilmu tentang kategori
Metafisika/Ontologi membahas
segala sesuatu yang ada
secara menyeluruh dengan cara memisahkan eksistensi dari penampilann eksistensi
itu.
Tiga
teori ontologis:
1. Idealisme: ada
sesungguhnya berada di dunia ide, yang tampak nyata dalam alam indrawi hanyalah
bayangan dari yang sesungguhnya. Tokohnya:
- Berkeley
(1685-1753): satu-satunya realitas sesungguhnya ialah aku subjektif spiritual.\
- I.
Kant
(1724-1804): objek pengalaman ialah yang ada dalam ruang dan waktu, penampilan dari yang tak punya eksistensi dan independen di luar pemikiran kita.
- Hegel
(1770-1831): segala sesuatu yang ada adalah satu
bentuk
dari satu pikiran.
2. Materialisme: menolak hal yang tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan. Tokohnya:
- Leukippos dan Demokritos (460-370sM): realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yang tak dapat dibagi (atom).
- Hobbes (1588-1679): seluruh realitas ialah materi yang tak bergantung pada pikiran kita.
- L.A.Feuerbach (1804-1872): material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam meteri itu.
3. Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Harus dibedakan dengan monisme dan pluralisme (teori tentang jumlah substansi).
Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
Pengertian
Kosmologi: (kosmos=dunia/ketertiban, logos=kata, ilmu) percakapan tentang alam/ketertiban paling fundamental dari seluruh realitas. Memandang alam sebagai totalitas dari fenomena. Yang disoroti: ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, keabadian dengan metode rasional.
Teologi metafisik: dikenal dengan theodicea yg membahas kepercayaan pada Allah di tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia. Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama.
Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dengan bukti rasional sbb:
- Argumen ontologis: semua manusia punya ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih dari ide manusia tentang Tuhan.
- Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
- Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
- Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
Definisi Metafisika Khusus Menurut Tokoh
- Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
- David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
- L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri, yakni egoisme. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
- F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
- Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu:
a) penguasa alam,
b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan,
c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.
AKSIOLOGI
Pengertian
Aksiologi berasal dari kata dalam bahsa Yunani, yaitu axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.Nilai berkaitan dengan kegunaan. Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi sebagai ilmu yanbg membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
- Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
- Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.
- Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.
Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan nilai. Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata, berlangsung begitu saja. Sementara nilai sebagai sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat/mengimbau kita. Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif.
Fakta selalu mendahului nilai, duluan fakta baru penilaian atas fakta tersebut.
3 ciri-ciri nilai:
1) Nilai berkaitan dengan subjek,
2) Nilai tampil dalam konteks praktis,
3) Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek.
Macam-macam nilai:
1) nilai ekonomis: bidak hukum ekonomi,
2) nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.
Nilai Moral
Nilai dibagi dalam 4 kelompok:
1) Nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yg perpadanan dengan makluk punya indera.
2) Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur dll,
3) nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalah inderawi),
4) Nilai Religius seperti yang kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut: nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dari nilai vital, dst.
Ciri-ciri nilai moral:
1) Berkaitan dengan tanggungjawab kita sebagai manusia. Nilai moral bisa diwujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya jadi tanggungjawab.
2) Berkaitan dengan hati nurani,
3) Mewajibkan, nilai moral mewajibkan secara absolut,
4) Bersifat formal: tidak ada nilai moral yang ‘murni’ terlepas dari nilai lain.
Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.
Pembagian Aksiologi
Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu:
1) Etika (Filsafat Etika):
- Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
- Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lainnya.
- Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma, dan istilah moral.
- Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
2) Estetika (Filsafat keindahan).
- Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.
- Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya
Filsafat Sebagai 3 hal sebagaimana dikemukakan Idzan Fautanu:
1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran
2. Filsafat sebagai pandangan hidup
3. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah
Encyclopedia of Philosophy dijelaskan aksiologi dinamakan dengan value and valuation:
1. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak
2. Nilai sebagai kata benda konkret
3. Nilai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, atau dinilai
Obyektivitas dan Subyektivitas Nilai
Nilai itu kadang-kadang bersifat obyektif, namun kadang-kadang bersifat subyektif.
- Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subyek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada obyeknya bukan pada subyek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada obyektivitas fakta.
- Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya. Dengan demikian, nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Peranan Nilai Bagi Kita
1.Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
2.Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.
3.Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
4.Memperkuat identitas kita sebagai manusia
SEKIAN
2. Materialisme: menolak hal yang tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yang keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan. Tokohnya:
- Leukippos dan Demokritos (460-370sM): realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yang tak dapat dibagi (atom).
- Hobbes (1588-1679): seluruh realitas ialah materi yang tak bergantung pada pikiran kita.
- L.A.Feuerbach (1804-1872): material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam meteri itu.
3. Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Harus dibedakan dengan monisme dan pluralisme (teori tentang jumlah substansi).
Metafisika Khusus (Teologi Metafisik)
Pengertian
Kosmologi: (kosmos=dunia/ketertiban, logos=kata, ilmu) percakapan tentang alam/ketertiban paling fundamental dari seluruh realitas. Memandang alam sebagai totalitas dari fenomena. Yang disoroti: ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, keabadian dengan metode rasional.
Teologi metafisik: dikenal dengan theodicea yg membahas kepercayaan pada Allah di tengah realitas kejahatan yang merajalela di dunia. Membahas eksistensi Allah lepas dari kepercayaan agama.
Beberapa tokoh Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, I.Kant membuktikan Allah ada dengan bukti rasional sbb:
- Argumen ontologis: semua manusia punya ide ttg Allah. Realitas lebih sempurna dr ide. Tuhan pasti ada dan realitas adanya pasti lebih dari ide manusia tentang Tuhan.
- Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
- Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
- Argumen moral:Manusia bermoral karena dpt membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
Definisi Metafisika Khusus Menurut Tokoh
- Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
- David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
- L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri, yakni egoisme. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
- F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
- Sigmund Freund: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu:
a) penguasa alam,
b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan,
c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.
AKSIOLOGI
Pengertian
Aksiologi berasal dari kata dalam bahsa Yunani, yaitu axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.Nilai berkaitan dengan kegunaan. Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi sebagai ilmu yanbg membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Surisumantri menyatakan bahwa aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
- Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
- Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.
- Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.
Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan nilai. Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata, berlangsung begitu saja. Sementara nilai sebagai sesuatu yang berlaku, sesuatu yang memikat/mengimbau kita. Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif.
Fakta selalu mendahului nilai, duluan fakta baru penilaian atas fakta tersebut.
3 ciri-ciri nilai:
1) Nilai berkaitan dengan subjek,
2) Nilai tampil dalam konteks praktis,
3) Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek.
Macam-macam nilai:
1) nilai ekonomis: bidak hukum ekonomi,
2) nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.
Nilai Moral
Nilai dibagi dalam 4 kelompok:
1) Nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yg perpadanan dengan makluk punya indera.
2) Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur dll,
3) nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalah inderawi),
4) Nilai Religius seperti yang kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
Ada suatu hirarki dari pengelompokkan 4 nilai tersebut: nilai vital lebih tinggi dari nilai kesenangan, nilai rohani lebih tinggi dari nilai vital, dst.
Ciri-ciri nilai moral:
1) Berkaitan dengan tanggungjawab kita sebagai manusia. Nilai moral bisa diwujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya jadi tanggungjawab.
2) Berkaitan dengan hati nurani,
3) Mewajibkan, nilai moral mewajibkan secara absolut,
4) Bersifat formal: tidak ada nilai moral yang ‘murni’ terlepas dari nilai lain.
Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.
Pembagian Aksiologi
Aksiologi dibagi dalam dua bagian, yaitu:
1) Etika (Filsafat Etika):
- Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
- Etika digunakan untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lainnya.
- Etika sebagai filsafat yang memuat pendapat, norma, dan istilah moral.
- Etika sebagai aturan sopan santun dalam pergaulan.
2) Estetika (Filsafat keindahan).
- Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.
- Estetika berkenaan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya
Filsafat Sebagai 3 hal sebagaimana dikemukakan Idzan Fautanu:
1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran
2. Filsafat sebagai pandangan hidup
3. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah
Encyclopedia of Philosophy dijelaskan aksiologi dinamakan dengan value and valuation:
1. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak
2. Nilai sebagai kata benda konkret
3. Nilai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, atau dinilai
Obyektivitas dan Subyektivitas Nilai
Nilai itu kadang-kadang bersifat obyektif, namun kadang-kadang bersifat subyektif.
- Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subyek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada obyeknya bukan pada subyek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada obyektivitas fakta.
- Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya. Dengan demikian, nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Peranan Nilai Bagi Kita
1.Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
2.Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.
3.Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
4.Memperkuat identitas kita sebagai manusia
SEKIAN
Langganan:
Postingan (Atom)
