Selamat siang
sebelumnya, sekarang saya akan membahas tentang debat kelas yang berlangsung
pada hari Kamis 18-9-2014 yang lalu. Maaf bila saya baru membahas debatnya
sekarang, itu dikarenakan saya mengutamakan pembahasan materi pembelajaran
terlebih dahulu.
Debat pada
hari Kamis dibagi menjadi 2 topik. Topik yang pertama mengenai Pemilu Pilkada sedangkan topik kedua
mengenai Pergaulan Bebas. Pada debat ini
dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pro dan kontra dan 2 perwakilan dari
masing-masing kelompok akan maju untuk debat. Pada debat ini kami diharuskan
menggunakan 3 metode yaitu :Fenomenalisme, Rasionalisme dan Pragmatis.
Pada debat
ini Romo Carolus, dosen sekaligus bertindak sebagai moderator yang memberikan topik-topik
pembahasan yang menarik. Pertama saya akan membahas tentang Pemilu Pilkada baru
yang kedua Pergaulan Bebas.
Pemilu Pilkada
Pada debat
pertama ini saya termasuk dalam kelompok kontra atau pro pemilihan langsung
dari masyarakat.
Nilai
Fenomenalisme: Pemilu Pilkada tidak seharusnya dipilih oleh anggota dewan
pemerintahan karena kemungkinan kecurangan seperti Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme akan lebih besar. Seperti contoh bisa saja anggota dewan akan
menunjuk seseorang yang memimpin yang masih merupakan anggota keluarganya atau
anggota dari partainya.
Nilai
Rasionalisme: saya setuju dengan pemilu dipilih oleh rakyat karena sesuai
dengan ideologi Indonesia yaitu pancasila dimana kami memiliki hak untuk
memilih secara demokratis, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan memilih
sendiri masyarakat pun ikut mengambil bagian dalam menentukan masa depan
Indonesia. Masyarakat juga dapat lebih mengenal calon pemimpin mereka dari
pemilu langsung dari pada dipilihkan oleh dewan pemerintahan tapi masyarakat
tidak mengenal calon pemimpin mereka.
Nilai
Pragmantis: resiko dengan pemilihan tidak langsung adalah masyarakat tidak mengenal calon pemimpinnya
dengan baik dan resiko korupsi,kolusi dan nepotisme lebih besar terjadi.
Selanjutnya
Pergaulan Bebas, pada debat ini saya termasuk kelompok kontra
Pergaulan Bebas
Nilai
Fenomenalisme: pergaulan bebas sudah dianggap hal biasa pada sekarang ini,
terutama anak muda, sex bebas sudah bukan hal tabu bagi mereka. Tingkat kehamilan
diluar nikah dan pernikahan diusia muda meningkat.
Nilai Rasionalisme: pergaulan bebas sampai sex
bebas merusak moral anak-anak muda apalagi sampai beresiko hamil dan melakukan
aborsi illegal. Sebisa mungkin harusnya dari kecil ditanamkan atau diajarkan tentang
pentingnya menjaga diri. Hal ini sangat merugikan masa depan kaum muda terutama
wanita.
Nilai
Pragmantis: pasangan yang melakukan sex bebas sampai hamil mungkin tidak peduli
dengan lingkungan sekitar. Tetapi hal ini juga akan berdampak pada penilaian
orang terhadap mereka dan keluarga mereka sehingga nama keluarga pun menjadi
buruk. Bila mereka melahirkan anak tersebut diluar nikah maka resiko sang anak
dicap sebagai anak haram akan mempengaruhi psikologis anak tersebut.
Isinya menarik dan bagus sekali !
BalasHapusWihh asikk debatnyaaa hahaha udah berasa kek di kelas gw wkwkwk kasih 83 dehhh
BalasHapusKeren debatnya! 85 ya:*
BalasHapus