Music

Minggu, 21 September 2014

Debat Pilkada dan Pergaulan Bebas 18-9-2014

Selamat siang sebelumnya, sekarang saya akan membahas tentang debat kelas yang berlangsung pada hari Kamis 18-9-2014 yang lalu. Maaf bila saya baru membahas debatnya sekarang, itu dikarenakan saya mengutamakan pembahasan materi pembelajaran terlebih dahulu.
Debat pada hari Kamis dibagi menjadi 2 topik. Topik yang pertama mengenai  Pemilu Pilkada sedangkan topik kedua mengenai  Pergaulan Bebas. Pada debat ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pro dan kontra dan 2 perwakilan dari masing-masing kelompok akan maju untuk debat. Pada debat ini kami diharuskan menggunakan 3 metode yaitu :Fenomenalisme, Rasionalisme dan Pragmatis.
Pada debat ini Romo Carolus, dosen sekaligus bertindak sebagai moderator yang memberikan topik-topik pembahasan yang menarik. Pertama saya akan membahas tentang Pemilu Pilkada baru yang kedua Pergaulan Bebas.

Pemilu Pilkada
Pada debat pertama ini saya termasuk dalam kelompok kontra atau pro pemilihan langsung dari masyarakat.
Nilai Fenomenalisme: Pemilu Pilkada tidak seharusnya dipilih oleh anggota dewan pemerintahan karena kemungkinan kecurangan seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme akan lebih besar. Seperti contoh bisa saja anggota dewan akan menunjuk seseorang yang memimpin yang masih merupakan anggota keluarganya atau anggota dari partainya.
Nilai Rasionalisme: saya setuju dengan pemilu dipilih oleh rakyat karena sesuai dengan ideologi Indonesia yaitu pancasila dimana kami memiliki hak untuk memilih secara demokratis, dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan memilih sendiri masyarakat pun ikut mengambil bagian dalam menentukan masa depan Indonesia. Masyarakat juga dapat lebih mengenal calon pemimpin mereka dari pemilu langsung dari pada dipilihkan oleh dewan pemerintahan tapi masyarakat tidak mengenal calon pemimpin mereka.
Nilai Pragmantis: resiko dengan pemilihan tidak langsung adalah  masyarakat tidak mengenal calon pemimpinnya dengan baik dan resiko korupsi,kolusi dan nepotisme lebih besar terjadi.

Selanjutnya Pergaulan Bebas, pada debat ini saya termasuk kelompok kontra
Pergaulan Bebas
Nilai Fenomenalisme: pergaulan bebas sudah dianggap hal biasa pada sekarang ini, terutama anak muda, sex bebas sudah bukan hal tabu bagi mereka. Tingkat kehamilan diluar nikah dan pernikahan diusia muda meningkat.
Nilai  Rasionalisme: pergaulan bebas sampai sex bebas merusak moral anak-anak muda apalagi sampai beresiko hamil dan melakukan aborsi illegal. Sebisa mungkin harusnya dari kecil ditanamkan atau diajarkan tentang pentingnya menjaga diri. Hal ini sangat merugikan masa depan kaum muda terutama wanita.

Nilai Pragmantis: pasangan yang melakukan sex bebas sampai hamil mungkin tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Tetapi hal ini juga akan berdampak pada penilaian orang terhadap mereka dan keluarga mereka sehingga nama keluarga pun menjadi buruk. Bila mereka melahirkan anak tersebut diluar nikah maka resiko sang anak dicap sebagai anak haram akan mempengaruhi psikologis anak tersebut.

3 komentar: