CRITICAL THINKING
Yang dimaksud dengan berpikir kritis adalah merasionalisasi
kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berpikir
sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang
sesuatu.
Karateristik Berpikir Kritis
1.Rasional, Reasonable,Reflektive
Berdasarkan alasan-alasan dan bukti-bukti, bukan atas dasar
keinginan pribadi. Pemikir kritis tidak “melompat pada kesimpulan”, butuh waktu
untuk koleksi data, timbang fakta, dan pikirkan permasalahan.
2.Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
Tidak menerima atau menolak ide-ide, kecuali karena mengerti
hal tersebut. Menaati peraturan setelah berpikir panjang dengan mencari pemahaman, merasionalisasikannya,
mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
3.Otonomi
Tidak mudah dimanipulasi dan Berpikir dengan pikiran
sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.
4.Kreatif
Menciptakan ide-ide orisinal dengan cara menghubungkan
pemikiran-pemikiran dan konsep.
5.Adil
Tidak berpihak
6.Dapat Dipercaya dan Dilakukan
-Memutuskan tindakan yang akan dilakukan,
-Membuat observasi yang dapat dipercaya,
-Menegakkan kesimpulan secara tepat,
-Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan
tindakan
.
Pemikir Kritis di Psikologi akan mempraktekkan ketrampilan
kognitif dalam :
-Analisa
-Aplikasi standar
-Diskriminasi
-Pencarian informasi
-Pembuatan alasan logis
-Prediksi
-Transformasi pengetahuan
5 Model Berpikir Kritis:
1.Total Recall (Pemanggilan Total)
mengingat fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan
bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan, bisa juga berarti kemampuan untuk
mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan
disimpan dalam pikiran.
2.Habits (Kebiasaan)
pendekatan berpikir yang diulang-ulang dengan sering,
dilakukan tanpa berpikir. Walaupun bukan dilakukan tanpa dipikir, tetapi hal
tersebut telah mendarah daging sehingga terlihat seperti tidak disadari.
Membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.
3.Inquiry (Pencarian Informasi)
memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal
yang terlihat nyata, termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu, khususnya
asumsi seseorang terhadap situasi tertentu.
4.New Ideas and Creativity (Ide-ide baru dan kreativitas)
Model ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber.
Mencoba menjadi seseorang yang berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.
-Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir.
-METACOGNITION : berada diantara proses mengetahui - tahu
bagaimana anda berpikir
-Schon (1983): menyarankan penggunaan pendekatan refleksi
(knowing how you think) untuk kerja profesional yg sulit menemukan masalah dan
solusinya dl buku sumber
T = Total Recall
H = Habits
I = Inquiry
N = New Ideas and Creativity
K = Knowing How You Think
THINK
SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME
Subyektivisme
Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh
individu. Dari pangkal pandangan
individu, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut
oleh para individu.
Pendukung pandangan ini adalah:
- Aristoteles, Plato, Rene Descartes
- Kaum Solipsisme (solo ipse)
- Kaum Realisme Epistemologis
- Kaum Idealisme Epistemologis
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
-Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang
khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah,
kepercayaan-kepercayaan yg lain, dst.
-Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak
pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
-Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan
bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai
pengetahuan langsung dari diri subyek.
DESCARTES:
Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah
pengada yang berpikir. Ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”, ia tidak
bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar,
merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam
kegiatan “berpikir”.
-Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran
menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
-Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan
mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa
subyektif murni.
Semua pengetahuan tentang
sesuatu “yang bukan aku” atau “yang diluar diri sendiri” diragukan
kepastian kebenarannya. Pengetahuan tentang “yang bukan aku” merupakan
pengetahuan tidak langsung.
Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah
subyektivisme. Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang
apa pun. Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai pengetahuan
tentang sesuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah
dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.
Descartes seorang rasionalis, Baginya rasio atau pikiran
adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Descartes
meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk
pengetahuan tentang dunia luar kita.
Obyektivisme
Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir
pengetahuan manusia – dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks –
mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran
individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada
diluar ketimbang di dalam pikiran manusia. Pendukung pandangan ini adalah: Popper,
Latatos dan Marx
Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita
persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran
manusia. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada
objeknya. Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala
sesuatu yang difahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
1.Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif,
2.Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3.Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.
Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
-sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk
mengetahuinya
-Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau
kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
-Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan
tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama
dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas dan bersifat
permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak.
Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa
syarat harus dipenuhi:
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna
infra merah tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli,
atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu
harus ada. Misalnya, warna akan ditangkat idera dengan tepat apabila di bawah
sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak
foto.
Perlu mengingat pembedaan antara obyek khusus dan obyek
umum:
-Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu
indera. Misalnya, warna, suara, bau.
-Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih
dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilhat dan diraba
atau oleh indera lainnya.
Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan
kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat
obyektif. Masalah persepsi tetap merupakan masalah yang paling besar yang tidak
terpecahkan di dalam keseluruhan epistemologi.
LOGIKA
Logika dari bahasa Yunani , yaitu logikos berarti: sesuatu
yg diungkapkan/diutarakan lewat bahasa. Pertama sekali digunakan istilah itu
oleh Zeno dari Citium (334 – 262 seb. M). Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari,
menyusun, dan membahas asas-asas/aturan formal serta kriteria yg sahih bagi
penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat
dipertanggungjawabkan secara rasional.
Secara singkat dapat dikatakan logika adalah ilmu
pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan adalah
kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu
kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat
dipertanggungjawabkan. logika bukanlah teori belaka. Logika juga merupakan
suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Inilah
sebabnya mengapa logika disebut filsafat yang praktis.
Manfaat Belajar Logika:
1.Membantu setiap
orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
2.Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak.
3.Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
4.Menambah kecerdasan berpikir, sehingga bisa menghindari
kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan.
Sejarah Logika
Sebagai istilah logika pertama sekali digunakan oleh Zeno
dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai
ilmu adalah Aristoteles. Kendati istilah yang digunakan adalah analitika, tapi
dialah yang pertama sekali meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi
yang benar.
Macam-Macam Logika:
-Logika kodrati: suatu suasana saat akal budi bekerja
menurut hukum logika secara spontan.
-Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar
dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.
Dipelajari berbagai aturan, hukum, asas agar diperoleh pemikiran yang benar dan
bisa dipertangungjawabkan secara rasional.
Obyek Logika:
-Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
-Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk
melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui
bahasa.
Logika Formal
Logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk, logika formal
disebut juga logika minor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk,
bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya
dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut. Yang harus
diperhatikan di situ ialah penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis
atau dasar penyimpulan. Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan
pangkal/dasar untuk menarik kesimpulan yang logis.
Semua M adalah P, Semua S adalah M. Jadi, semua S adalah P. Pola
susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan bentuk yang
tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih (valid). Jadi tanda-tanda M, P,
dan S dapat diganti degan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang
dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara
logis dari premis maka penalaran itu tepat.
Logika Material
logika yang membahas tentang kebenaran isi. logika material
disebut logika mayor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila
pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan. Argumen
ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus
isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, kebenaran suatu
argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak.
Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah,
dapat kebetulan benar.
-Semua binatang menyusui memiliki sayap
-Burung binatang menyusui
-Jadi burung memilkki sayap
Jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar,
tetapi dapat juga salah.
-Semua kucing binatang mamali
-Anjing adalah kucing
-Jadi anjing adalah mamalia.
LOGIKA INDUKTIF DAN DEDUKTIF
Induktif
Logika/Penalaran induktif adalah cara kerja ilmu pengetahuan
yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik
kesimpulan umum tertentu. Atas dasar fakta dirumuskan kesimpulan umum. Kesimpulan
itu adalah generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan. Namun kesimpulan
umum harus dianggap sebagai bersifat sementara. Karena ciri dasar induktif
selalu tidak lengkap.
Persamaan penalaran induktif dg deduktif = argumentasi
keduanya terdiri dari premis-premis yang mendukung kesimpulan.
Perbedaan: penalaran induksi yzng tepat akan punya
premis-premis benar tapi kesimpulan salah, karena argumentasi penalaran
induktif tidak membuktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan
berisi suatu kemungkinan.
Cara Penalaran Induktif
Proses induksi mulai berdasar kejadian-kejadian, gejala
partikular. Penal induksi = proses penalaran berdasarkan pengertian
partikular/premis untuk hasilkan pengertian umum/kesimpulan.
Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penal induktif =proposisi empiris yang ditangkap
indera,
2) Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas daripada
apa yang dinyatakan dalam premis.
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya.
Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional=probabilitas.
Generalisasi Induktif
Arti: Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan
sifat tertentu untuk menarik kesimpulan tentang semua.
Prinsip: Apa yang terjadi beberapa kali dalam kondisi
tertentu dapat diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi.
Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tidak terbatas secara numerik, tidak boleh terikat pada
jumlah tertentu
2) Tidak terbatas secara spasio temporal, harus berlaku
dimana saja.
3) Dapat dijadikan dasar pengandaian.
Analogi Induktif
Analogi = bicara tentang dua hal yang berbeda dan
dibandingkan. Dua hal perlu diperhatikan: persamaan dan perbedaan. Bila
memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi. Maka analogi induktif –
proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus
berdasarkan kebenaran gejala khusus yang lain yang punya sifat esensial yang
sama. Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal tapi khusus. Contoh:
Mangga 1: kuning,
besar, matang, ternyata manis.
Mangga 2: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 3: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 4: kuning, besar, dan matang
Kesimpulan tentu manis juga.
Jadi analogi induktif menarik kesimpulan atas dasar
persamaan. Beda dengan generalisasi induktif, dimana konklusinya berupa
proposisi universal. Penalaran induktif,
konklusinya lebih luas daripada premis-premis.
Deduktif
Deduksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu
dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’
dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’ . yang lebih khusus itu sudah termuat
secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum.
Faktor Probabilitas
Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi
oleh:
(1) faktor fakta: ‘makin besar jumlah fakta yg dijadikan
dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan
sebaliknya’.
(2) faktor analogi: ‘semakin besar jumlah faktor analogi dlm
premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya.’
(3) faktor disanalogi: ‘makin besar faktor disanalogi di dlm
premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya’.
(4) faktor luas konklusi: ‘semakin luas konklusi, semakin
rendah probabilitasnya, dan sebaliknya’.
Kesesatan Generalisasi/Analogi:
-Tergesa-gesa: cepat menarik kesimpulan dari beberapa fakta.
-Faktor ceroboh:
cepat tarik kesimpulan tanpa memperhatikan soal kondisi lingkungan
-Prasangka: memberi penilaian tanpa melihat fakta lain yang
tidak cocok
Untuk menghindarinya: membangun sikap kritis, terbuka pada
koreksi dan kritik dari orang lain.
Hubungan Sebab-Akibat
Prinsip umum: suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu.
Terkandung makna bahwa yang satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tapi tidak
semua yang mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.
Hub sebab akibat = hubungan yang intrinsik, artinya hub
sedemikan rupa sehinga kalau yang satu ada/tidak ada, maka yang lain juga pasti
ada/tidak ada.
Tiga pola hub sebab akibat:
1) dari sebab ke akibat,
2) dari akibat ke sebab,
3) dari akibat ke akibat.
Manfaat Belajar Penalaran Induksi
Manfaat logika induktif: memberikan pembenaran atas
kecenderungan manusia yang bersandar pada kebiasaan.
Memang tidak pernah biss merasa pasti atas kebenaran suatu
kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dpt menekan kemungkinan
kesalahan. Maka, jangan pernah menarik kesimpulan induktif dengan data yang
masih minum, tergesa-gesa, ceroboh dan hanya di landasi prasangka.
SILOGISME
Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik
tolak pada premis-premis dan dari premis-premis itu ditarik suatu kesimpulan. Premis-premis
dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan
untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan. Artinya, jika premis-premis
benar, maka kesimpulan juga harus benar. Benar salahnya kesimpulan deduktif
berdasarkan rujukan realitas, argumentasi-argumentasi deduktif yang memiliki
kekhasan tersendiri. Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan
atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid). Premis dianggap “benar” apabila
sesuai dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap “salah” apabila tidak sesuai
dengan realita.
Ciri-Ciri Silogisme:
1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi
kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat
tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari
tiga proposisi.
Premis Minor: Psikolog adalah cendekiawan
Konklusi: Jadi, Psikolog adalah kaum intelektual.
Argumentasi tersebut dinamakan silogisme karena argumentasi
tersebut terdiri dari 3 ciri tersebut. Di
mana proposisi hubungan antara subyek dan predikat bersifat langsung, tanpa
syarat. Dengan kata lain pengakuan predikat terhadap subyek bersifat langsung. Pengakuan
predikat “kaum intelektual” terhadap subyek “setiap cendekiawan” bersifat
langsung.
Silogisme terdiri dari ketiga term yang berbeda (term mayor,
term minor dan term menengah), serta masing-masing term muncul dalam dua dari
tiga proposisi.
Misalnya, term mayor “kaum intelektual” terdapat baik pada
premis mayor maupun dalam kesimpulan. Term minor, yaitu “Psikolog”, terdapat di
premis minor dan kesimpulan. Dan term menengah (term penghubung kedua premis)
yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis minor.
KONFIRMASI, INFERENSI DAN KONSTRUKSI TEORI
Konfirmasi
Etimologi: Confirmation (Inggris)= penegasan, memperkuat. Berhubungan
dg filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan,
memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif
dan memberi makna ttg sesuatu.
Ada 2 aspek konfirmasi: kuantitatif dan kualitatif
-Konfirmasi Kuantitatif: Untuk memastikan kebenaran, ilmu
pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
-Konfirmasi Kualitatif: Ada kalanya ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi
kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif
tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan konfirmasi kualitatif.
Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis
(kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi).
3 Jenis Konfirmasi:
(1) decision theory: kepastian berdasarkan keputusan
(2) estimation theory: menetapkan kepastian dg memberi
peluang benar-salah melalui konsep probabilitas.
(3)reliability theory: menetapkan kepastian dg mencermati
stabilitas fakta/evidensi yg berubah2 terhadap hipotesis.
Inferensi
Kata inferensi artinya penyimpulan. Penyimpulan diartikan
sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion). Dengan demikian, inferensi
dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau
lebih proposisi (keputusan).
Inferensi (penyimpulan): bertolak dari pengetahuan yang
sudah dimiliki bergerak ke pengetahuan baru. Penyimpulan: bisa berupa
“mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua pernyataan.
Jenis Inferensi:
Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan
melalui dua cara. Yakni, cara deduktif dan induktif. Mengingat dua cara
tersebut kemudian dikenal istilah inferensi deduktif dan inferensi induktif. Inferensi
deduktif terbagi ke dalam dua jenis. Yakni, Inferensi Langsung dan Inferensi
Tidak Langsung. Inferensi Tidak Langsung disebut juga sebagai Inferensi
Silogistik.
-Inferensi Langsung: Inferensi Langsung ialah penarikan
kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan). Konklusi yang
ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya.
-Inferensi Tdak Langsung: Inferensi Tidak Langsung adalah
penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis. Konklusi
tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya. Proposisi-proposisi yang
menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan
proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens.
Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor,
sedangkan premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
Hukum Inferensi:
1.Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
2.Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah,
dapat kebetulan benar.
3.Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
4.Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar,
tetapi dapat juga salah.
Konstruksi Teori
2 Kutub Arti Teori:
-Kutub 1: Teori sbg hukum eksperimental. Mis hukum Mendel
ttg keturunan yg bisa langsung diuji lewat observasi.
-Kutub 2: Teori sbg hukum yg berkwalitas normal, spt teori
relativitasnya Einstein.
Teori relativitas Einstein: Relativitas khusus menunjukkan
bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat
materi yg menentang atau menghambat perubahan keadaan gerak benda materi itu)
dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua
pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah
mereka bergerak atau diam.
Pengelompokan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
(1) Animisme: fase percaya pd mitos.
(2) Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah
(a) pengalaman.
(b) klasifikasi: prosedur paling dasar utk mengubah data.
(c) penemuan hubungan-hubungan,
(d) perkiraan kabenaran.
(3) Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris
diterangkan dg kerangka pemikiran.
Konstruksi Teori dibangun dengan:
(1) abstraksi generalisasi.
(2) deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).
3 Model Konstruksi Teori:
-Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan
menemukan relevansinya dengan yang lain.
-Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan
moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif –rasional
universal dan kebenaran moral/ nilai. Model ini digunakan dalam pendekatan
fenomenologis.
-Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut
pola hubungan yang beragam,
menyederhanakan yang kompleks.
Aliran Dalam Konstruksi Teori:
-Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tdk
dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsung.
-Instrumentalisme:
teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan
terkonstruksi.
-Realisme: teori dianggap benar bila real, scr substantif
ada, bukan fiktif.
SEKIAN
dessy, blog lu lengkap banget dah haha gua kasih nilai 83 ya :D
BalasHapusNice share! ditunggu yang lainnya ya! nilainya 90 deh :D
BalasHapusnice dessy, gue kassih nilai 90 deh :D
BalasHapuswahh dessy blognya lucu deh hha, keep posting ya dessy. aku kasih nilai 80 yah hehe
BalasHapusWah lengkap banget materinya! 95 buat dessy;)
BalasHapusLengkap materinya,80 buat dessy
BalasHapusKoment pnya gue jga ya
Hehe
materinya lengkap, designnya juga lucu. 82 deh nilainya.
BalasHapusdessy bagus deh desainnya ! isinya juga lengkap teratur mudah dimengerti ! oke banget 83 des :*
BalasHapusXien, artikelnya lengkap dan mendetail... Good job!! ^^
BalasHapusdessy bagus banget blognya lengkap 90 yaa
BalasHapus