Music

Sabtu, 20 September 2014

Pertemuan 19-9-2014 Blok Filsafat Psikologi UNTAR

CRITICAL THINKING

Yang dimaksud dengan berpikir kritis adalah merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.

Karateristik Berpikir Kritis
1.Rasional, Reasonable,Reflektive
Berdasarkan alasan-alasan dan bukti-bukti, bukan atas dasar keinginan pribadi. Pemikir kritis tidak “melompat pada kesimpulan”, butuh waktu untuk koleksi data, timbang fakta, dan pikirkan permasalahan.

2.Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
Tidak menerima atau menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut. Menaati peraturan setelah berpikir panjang  dengan mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.

3.Otonomi
Tidak mudah dimanipulasi dan Berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.

4.Kreatif
Menciptakan ide-ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran-pemikiran dan konsep.

5.Adil
Tidak berpihak

6.Dapat Dipercaya dan Dilakukan
-Memutuskan tindakan yang akan dilakukan,
-Membuat observasi yang dapat dipercaya,
-Menegakkan kesimpulan secara tepat,
-Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan
.
Pemikir Kritis di Psikologi akan mempraktekkan ketrampilan kognitif dalam :
-Analisa
-Aplikasi standar
-Diskriminasi
-Pencarian informasi
-Pembuatan alasan logis
-Prediksi
-Transformasi pengetahuan

5 Model Berpikir Kritis:
1.Total Recall (Pemanggilan Total)
mengingat fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan, bisa juga berarti kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran.

2.Habits (Kebiasaan)
pendekatan berpikir yang diulang-ulang dengan sering, dilakukan tanpa berpikir. Walaupun bukan dilakukan tanpa dipikir, tetapi hal tersebut telah mendarah daging sehingga terlihat seperti tidak disadari. Membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.

3.Inquiry (Pencarian Informasi)
memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal yang terlihat nyata, termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu, khususnya asumsi seseorang terhadap situasi tertentu.

4.New Ideas and Creativity (Ide-ide baru dan kreativitas)
Model ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber. Mencoba menjadi seseorang yang berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.

5.Knowing How You Think  (Mengetahui apa yang anda pikirkan)
-Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir.
-METACOGNITION : berada diantara proses mengetahui - tahu bagaimana anda berpikir
-Schon (1983): menyarankan penggunaan pendekatan refleksi (knowing how you think) untuk kerja profesional yg sulit menemukan masalah dan solusinya dl buku sumber
T = Total Recall
H = Habits
I = Inquiry
N = New Ideas and Creativity
K = Knowing How You Think
THINK

SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME

Subyektivisme
Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.  Dari pangkal pandangan individu, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
Pendukung pandangan ini adalah:
- Aristoteles, Plato, Rene Descartes
- Kaum Solipsisme (solo ipse)
- Kaum Realisme Epistemologis
- Kaum Idealisme Epistemologis

Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
-Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan-kepercayaan yg lain, dst.
-Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
-Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.

DESCARTES:
Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir. Ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”, ia tidak bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan “berpikir”.

-Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
-Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.

Semua pengetahuan tentang  sesuatu “yang bukan aku” atau “yang diluar diri sendiri” diragukan kepastian kebenarannya. Pengetahuan tentang “yang bukan aku” merupakan pengetahuan tidak langsung.
Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme. Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apa pun. Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai pengetahuan tentang sesuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu.
Descartes seorang rasionalis, Baginya rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Descartes meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita.

Obyektivisme
Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia – dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks – mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat). Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia. Pendukung pandangan ini adalah: Popper, Latatos dan Marx
Obyektivisme merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang difahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.

Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
1.Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif,
2.Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
3.Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Pandangan ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.

Pengetahuan dalam pengertian Objektivis:
-sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya
-Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
-Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)

Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas dan bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak.

Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi:
a. Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat. Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara obyektif.
c. Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada. Misalnya, warna akan ditangkat idera dengan tepat apabila di bawah sinar matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.

Perlu mengingat pembedaan antara obyek khusus dan obyek umum:
-Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.
-Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya keluasan dan gerakan yang dapat dilhat dan diraba atau oleh indera lainnya.

Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat obyektif. Masalah persepsi tetap merupakan masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemologi.

LOGIKA

Logika dari bahasa Yunani , yaitu logikos berarti: sesuatu yg diungkapkan/diutarakan lewat bahasa. Pertama sekali digunakan istilah itu oleh Zeno dari Citium (334 – 262 seb. M). Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, dan membahas asas-asas/aturan formal serta kriteria yg sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Secara singkat dapat dikatakan logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok yang tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. logika bukanlah teori belaka. Logika juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek. Inilah sebabnya mengapa logika disebut filsafat yang praktis.

Manfaat Belajar Logika:
1.Membantu setiap  orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
2.Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar secara abstrak.
3.Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
4.Menambah kecerdasan berpikir, sehingga bisa menghindari kesesatan dan kekeliruan dalam menarik kesimpulan.

Sejarah Logika
Sebagai istilah logika pertama sekali digunakan oleh Zeno dengan aliran stoisismenya, tapi filsuf pertama yang menggunakan logika sebagai ilmu adalah Aristoteles. Kendati istilah yang digunakan adalah analitika, tapi dialah yang pertama sekali meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar.

Macam-Macam Logika:
-Logika kodrati: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
-Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari. Dipelajari berbagai aturan, hukum, asas agar diperoleh pemikiran yang benar dan bisa dipertangungjawabkan secara rasional.

Obyek Logika:
-Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
-Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.

Logika Formal
Logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk, logika formal disebut juga logika minor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut. Yang harus diperhatikan di situ ialah penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan. Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal/dasar untuk menarik kesimpulan yang logis.
Semua M adalah P, Semua S adalah M. Jadi, semua S adalah P. Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan bentuk yang tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih (valid). Jadi tanda-tanda M, P, dan S dapat diganti degan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara logis dari premis maka penalaran itu tepat.

Logika Material
logika yang membahas tentang kebenaran isi. logika material disebut logika mayor. Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan. Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak.

Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
-Semua binatang menyusui memiliki sayap
-Burung binatang menyusui
-Jadi burung memilkki sayap
Jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
-Semua kucing binatang mamali
-Anjing adalah kucing
-Jadi anjing adalah mamalia.

LOGIKA INDUKTIF DAN DEDUKTIF

Induktif
Logika/Penalaran induktif adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik kesimpulan umum tertentu. Atas dasar fakta dirumuskan kesimpulan umum. Kesimpulan itu adalah generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan. Namun kesimpulan umum harus dianggap sebagai bersifat sementara. Karena ciri dasar induktif selalu tidak lengkap.

Persamaan penalaran induktif dg deduktif = argumentasi keduanya terdiri dari premis-premis yang mendukung kesimpulan.
Perbedaan: penalaran induksi yzng tepat akan punya premis-premis benar tapi kesimpulan salah, karena argumentasi penalaran induktif tidak membuktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan berisi suatu kemungkinan.

Cara Penalaran Induktif
Proses induksi mulai berdasar kejadian-kejadian, gejala partikular. Penal induksi = proses penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis untuk hasilkan pengertian umum/kesimpulan.

Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penal induktif =proposisi empiris yang ditangkap indera,
2) Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas daripada apa yang dinyatakan dalam premis.
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya. Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional=probabilitas.

Generalisasi Induktif
Arti: Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan tentang semua.
Prinsip: Apa yang terjadi beberapa kali dalam kondisi tertentu dapat diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yang sama terpenuhi.
Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tidak terbatas secara numerik, tidak boleh terikat pada jumlah tertentu
2) Tidak terbatas secara spasio temporal, harus berlaku dimana saja.
3) Dapat dijadikan dasar pengandaian.

Analogi Induktif
Analogi = bicara tentang dua hal yang berbeda dan dibandingkan. Dua hal perlu diperhatikan: persamaan dan perbedaan. Bila memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi. Maka analogi induktif – proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yang lain yang punya sifat esensial yang sama. Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal tapi khusus. Contoh:
 Mangga 1: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 2: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 3: kuning, besar, matang, ternyata manis.
Mangga 4: kuning, besar, dan matang
Kesimpulan tentu manis juga.

Jadi analogi induktif menarik kesimpulan atas dasar persamaan. Beda dengan generalisasi induktif, dimana konklusinya berupa proposisi  universal. Penalaran induktif, konklusinya lebih luas daripada premis-premis.

Deduktif
Deduksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’ . yang lebih khusus itu sudah termuat secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum.

Faktor Probabilitas
Tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh: 
(1) faktor fakta: ‘makin besar jumlah fakta yg dijadikan dasar penalaran induktif, akan makin tinggi probabilitas konklusi dan sebaliknya’.
(2) faktor analogi: ‘semakin besar jumlah faktor analogi dlm premis, makin rendah probabilitas konklusinya, dan sebaliknya.’
(3) faktor disanalogi: ‘makin besar faktor disanalogi di dlm premis, akan makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya’.
(4) faktor luas konklusi: ‘semakin luas konklusi, semakin rendah probabilitasnya, dan sebaliknya’.

Kesesatan Generalisasi/Analogi:
-Tergesa-gesa: cepat menarik kesimpulan dari beberapa fakta.
-Faktor ceroboh:  cepat tarik kesimpulan tanpa memperhatikan soal kondisi lingkungan
-Prasangka: memberi penilaian tanpa melihat fakta lain yang tidak cocok
Untuk menghindarinya: membangun sikap kritis, terbuka pada koreksi dan kritik dari orang lain.

Hubungan Sebab-Akibat
Prinsip umum: suatu peristiwa disebabkan oleh sesuatu. Terkandung makna bahwa yang satu (sebab) mendahului yang lain (akibat). Tapi tidak semua yang mendahului sesuatu menjadi sebab bagi yang lain.
Hub sebab akibat = hubungan yang intrinsik, artinya hub sedemikan rupa sehinga kalau yang satu ada/tidak ada, maka yang lain juga pasti ada/tidak ada.

Tiga pola hub sebab akibat:
1) dari sebab ke akibat,
2) dari akibat ke sebab,
3) dari akibat ke akibat.

Manfaat Belajar Penalaran Induksi
Manfaat logika induktif: memberikan pembenaran atas kecenderungan manusia yang bersandar pada kebiasaan.
Memang tidak pernah biss merasa pasti atas kebenaran suatu kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dpt menekan kemungkinan kesalahan. Maka, jangan pernah menarik kesimpulan induktif dengan data yang masih minum, tergesa-gesa, ceroboh dan hanya di landasi prasangka.

SILOGISME

Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari premis-premis itu ditarik suatu kesimpulan. Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan. Artinya, jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar. Benar salahnya kesimpulan deduktif berdasarkan rujukan realitas, argumentasi-argumentasi deduktif yang memiliki kekhasan tersendiri. Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid). Premis dianggap “benar” apabila sesuai dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap “salah” apabila tidak sesuai dengan realita.

Ciri-Ciri Silogisme:
1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi.

Premis Mayor: Setiap cendekiawan adalah kaum intelektual
Premis Minor: Psikolog adalah cendekiawan
Konklusi: Jadi, Psikolog adalah kaum intelektual.

Argumentasi tersebut dinamakan silogisme karena argumentasi tersebut terdiri dari 3 ciri tersebut.  Di mana proposisi hubungan antara subyek dan predikat bersifat langsung, tanpa syarat. Dengan kata lain pengakuan predikat terhadap subyek bersifat langsung. Pengakuan predikat “kaum intelektual” terhadap subyek “setiap cendekiawan” bersifat langsung.
Silogisme terdiri dari ketiga term yang berbeda (term mayor, term minor dan term menengah), serta masing-masing term muncul dalam dua dari tiga proposisi.
Misalnya, term mayor “kaum intelektual” terdapat baik pada premis mayor maupun dalam kesimpulan. Term minor, yaitu “Psikolog”, terdapat di premis minor dan kesimpulan. Dan term menengah (term penghubung kedua premis) yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis minor.

KONFIRMASI, INFERENSI DAN KONSTRUKSI TEORI

Konfirmasi
Etimologi: Confirmation (Inggris)= penegasan, memperkuat. Berhubungan dg filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna ttg sesuatu.

Ada 2 aspek konfirmasi: kuantitatif dan kualitatif
-Konfirmasi Kuantitatif: Untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
-Konfirmasi Kualitatif: Ada kalanya  ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan konfirmasi kualitatif.
Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan fakta-fakta (evidensi).

3 Jenis Konfirmasi:
(1) decision theory: kepastian berdasarkan keputusan
(2) estimation theory: menetapkan kepastian dg memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas.
(3)reliability theory: menetapkan kepastian dg mencermati stabilitas fakta/evidensi yg berubah2 terhadap hipotesis.

Inferensi
Kata inferensi artinya penyimpulan. Penyimpulan diartikan sebagai proses membuat kesimpulan (conclusion). Dengan demikian, inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan).
Inferensi (penyimpulan): bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki bergerak ke pengetahuan baru. Penyimpulan: bisa berupa “mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua pernyataan.

Jenis Inferensi:
Di dalam logika, proses penarikan konklusi dapat dilakukan melalui dua cara. Yakni, cara deduktif dan induktif. Mengingat dua cara tersebut kemudian dikenal istilah inferensi deduktif dan inferensi induktif. Inferensi deduktif terbagi ke dalam dua jenis. Yakni, Inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung. Inferensi Tidak Langsung disebut juga sebagai Inferensi Silogistik.

-Inferensi Langsung: Inferensi Langsung ialah penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan). Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih luas dari premisnya.
-Inferensi Tdak Langsung: Inferensi Tidak Langsung adalah penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis. Konklusi tidaklah lebih umum dari pada premis-premisnya. Proposisi-proposisi yang menjadi premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan proposisi yang menjadi konklusi disebut konsekuens.
Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung term minor disebut premis minor.

Hukum Inferensi:
1.Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
2.Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
3.Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
4.Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.

Konstruksi Teori
Defenisi: teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah.

2 Kutub Arti Teori:
-Kutub 1: Teori sbg hukum eksperimental. Mis hukum Mendel ttg keturunan yg bisa langsung diuji lewat observasi.
-Kutub 2: Teori sbg hukum yg berkwalitas normal, spt teori relativitasnya Einstein. 
Teori relativitas Einstein: Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat materi yg menentang atau menghambat perubahan keadaan gerak benda materi itu) dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam.

Pengelompokan perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
(1) Animisme: fase percaya pd mitos.
(2) Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah
(a) pengalaman.
(b) klasifikasi: prosedur paling dasar utk mengubah data.
(c) penemuan hubungan-hubungan,
(d) perkiraan kabenaran.
(3) Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris diterangkan dg kerangka pemikiran.

Konstruksi Teori dibangun dengan:
(1) abstraksi generalisasi.
(2) deduksi probabilistik dan deduksi apriori (spekulatif).

3 Model Konstruksi Teori:
-Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
-Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Mementingkan kesesuaian antara kebenaran obyektif –rasional universal dan kebenaran moral/ nilai. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
-Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola  hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.

Aliran Dalam Konstruksi Teori:
-Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yg abstrak, tdk dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsung.
-Instrumentalisme:  teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
-Realisme: teori dianggap benar bila real, scr substantif ada,  bukan fiktif.

SEKIAN



10 komentar:

  1. dessy, blog lu lengkap banget dah haha gua kasih nilai 83 ya :D

    BalasHapus
  2. Nice share! ditunggu yang lainnya ya! nilainya 90 deh :D

    BalasHapus
  3. nice dessy, gue kassih nilai 90 deh :D

    BalasHapus
  4. wahh dessy blognya lucu deh hha, keep posting ya dessy. aku kasih nilai 80 yah hehe

    BalasHapus
  5. Wah lengkap banget materinya! 95 buat dessy;)

    BalasHapus
  6. Lengkap materinya,80 buat dessy
    Koment pnya gue jga ya
    Hehe

    BalasHapus
  7. materinya lengkap, designnya juga lucu. 82 deh nilainya.

    BalasHapus
  8. dessy bagus deh desainnya ! isinya juga lengkap teratur mudah dimengerti ! oke banget 83 des :*

    BalasHapus
  9. Xien, artikelnya lengkap dan mendetail... Good job!! ^^

    BalasHapus
  10. dessy bagus banget blognya lengkap 90 yaa

    BalasHapus